Thursday, November 23, 2017

Analisa Novel Sengsara Membawa Nikmat (Bab 8)

BAB 8
1) Tema

Di bab 8 ini, Midun menjalani sesuatu hukuman dimana ia dipenjara, namun sebelum itu dalam bab ini menceritakan bagaiamana berkenalan dengan seserorang yang bernama Gempa Alam, yaitu orang yang mengantar kannya ke Penjara, ia bercerita panjang lebar selama perjalanan , di mana Midun dan Gempa Alam memiliki pengalaman yang mirip. Maka tema ini bisa dijelaskan tema yang mengenai pertemanan dan kebaikan. 
2) Tokoh:

Midun: Midun adalah orang yang baik hati, sabar, dan berani

Gempa Alam: Gempa alam ini adalah seseorang yang sangat mengerti dengan apa yang di alami oleh  Midun, karena yang di alami Midun mirip seperti yang di alami oleh Gempa Alam, ia juga sangat baik, karena ia mengerti Midun ini orang yang baik sehingga ia percaya dengannya ketika ia melepas borgolnya. 

3) Latar/Setting:

Tempat:
- Stasiun Kereta Api: Ketika Midun Berpisah dengan Keluarganya 

Suasana: Sedih 

4) Alur

Alur di Bab ini jalannya ke depan, mencertiakan perjaalanan di kereta menuju penjaran, namun juga ada yang kebelakang menceritakan pengalaman Midun, dan juga pengalaman Gempa Alam, maka alurnya adalah Maju Mundur. 


5) Sudut Pandang
Sudut pandangnya adalah sudut pandang orang ketiga karena kita sebagai pembaca membacanya

6) Amanat


Dalam menjalani masalah harus bersabar dan ikhlas. 

Analisa Novel Sengsara Membawa Nikmat (Bab 6) dan (Bab 7)

                                       BAB 6 dan BAB 7
                      
                                                                   Analisa Oleh Rayhan Arazi
UNSUR INTRINSIK
1) Tema

Tema di bab 6 dan bab 7 ini  adalah masih pada persahabatan dimana Maun ikut serta membantu Midun dalam perjalanannya ke pasarmalam di Bukittingi. Di mana mereka pun tidak lepas dari masalah yang menimpa mereka di kampunya, Midun dan Maun sudah bersiap dalam apa yang akan datang, dan mereka pun menjalani masalah yang menimpanya, sehingga membuat masalah pada Midun sendriri.

2) Tokoh dan Penokohan:

Kacak: Orang yang dengki, sombong (Ia menyuruh lenggang untuk membunuh Kacak)
Midun: Tokoh Protagonis dalam cerita ini, tokoh yang baik hati, berilmu, sabar, berani
Maun: Teman yang setia kepada kawannya
Lenggang: Jahat – bukan karena suatu masalah pribadi, tetapi karena suruhan

3) Latar/Setting:

Tempat:
- Bukittinggi: Tempat adanya pasar malam

-Pasar Malam : Tempat Midun dan Maun berkunjung di Bukittinggi

-Lepau Nasi : Tempat Midun dan Maun menginap
-Tempat Pacuan Kuda: Tempat Midun dan Maun menonton Pacuan Kuda
Suasana:
-Heboh (Saatorang - orang melihat Midun mengangkat batu keramat)
-Tegang (yaitu ketika Midun berkelahi dengan Lenggang) (saat mereka melihat Lenggang di Jalan)
Waktu:
-Waktu pagi (Dimana Midun dan Maun tiba di Bukittinggi.)
-Waktu Malam (Saat mengunjungi pasar malam yang sangat ramai itu.) (Juga saat mereka menginap di Lepau Nasi)

4) Alur

Alur di bab 6 adalah alur maju karena cerita dalam bab ini berjalan terus ke depan, tanpa melihat ke masa lalu.

5) Sudut Pandang

Sudut pandangnya adalah sudut pandang orang ketiga karena kita sebagai pembaca membacanya seakan-akan pembicara yang menceritakan kejadian pada jalannya cerita ini.

6) Amanat
Amanat dalam cerita ini adalah kita harus percaya dengan kebaikan, dimana kita dengan percaya hal tersebut kita pun akan melakukan kebaikan, yaitu salah satu contoh pada bab 6- 7 ini adalah saling menjaga, di mana Maun menjaga Midun saat mereka berkunjung di Bukittinggi, dan sampai saat mereka Berkelahi dengan Lenggang. 

Dan juga amanat di mana ditunjukan oleh Midun saat ia dapat mengankat batu keramat, yang di mana diceritakan bahawa siapa pun yang dapat mengangkat akan dapat masa depan yang cerah, namun demikian, Midun tidak percaya dengna hal tersebut, melainkan ia percaya bahwa yang menentukan masa depan hanyalah kita, kita menentukan masa depan, dan kita harus percaya juga dengan tuhan kita, yaitu Allah karena Allah lah yang mengatur segalanya, termasuk takdir, dan juga kita harus percaya kuat dengan Allah SWT karena jika tidak maka perbuatan tersebut dianggap Musyrik yaitu sangat tidak diperbolehkan dalam Islam. 

                                                                      UNSUR EKSTRINSIK
Unsur ekstrinsik pada bab ini terlihat pada bagian ekonomi yang terlihat di mana mereka masih menggunakan uang rupiah 600an.



Thursday, October 19, 2017

Orasi - Bhineka Tunggal Ika - Rayhan Arazi

Pidato Mengenai  “Bhineka Tunggal Ika”

Rayhan Karim Arazi


Assalamualaikum Warahmatullahi Warbarokatuuh,



Negara kita ini merupakan negara yang sangat luas, dan sangat kaya, sehingga terdapat banyak sekali suku bangsa yang ada di negara kita Indonesia ini.

Negara ini terdiri dari suku bangsa yang berbeda-beda, dan sejak dulu kala memang sudah banyak sekali perbedaan diantara kita semua yang sehingga membuat konflik atau permasalahan yang terjadi pada negeri ini, permasalahan seperti perbedaan pandangan, dan lain – lain yang sehingga membuat konflik yang lebih besar.

Perbedaan inilah yang tercipta saat suatu negara memiliki suku bangsa yang berbeda-beda, namun karena inilah juga Bhineka Tunggal Ika dijadikan ideologii bangsa, yaitu untuk menyatukan kita semua dari berbagai golongan, agama, etnik, ras, dan lain – lain.

Bhineka Tunggal Ika ini bermakna, “Berbeda-beda tetapi bersatu,” Kata Bhineka Tunggal Ika ini merupkan frase penggalan dari tulisan Mpu Tantular yang merupakan penganut agama Buddha.

Para pendiri bangsa Indonesia ini yang sebagian besar beragama islam terlihat menunjukan sikap toleran untuk menerima warisan Mpu Tantular, yaitu (Bhinekka Tunggak Ika), walaupun ia penganut agama Buddha. Inilah sikap yang seharusnya kita contoh.

Namun jika “Bhinekka Tunggal Ika” baru dibuat sekarang, mungkin akan terjadi demo lagi seperti biasa.

Kata Bhineka Tunggal Ika ini memang sudah menjadi ideologi bangsa kita ini, seperti yang diharapkan oleh pendiri – pendiri bangsa ini.

Tetapi apakah sudah benar terlaksanakan sepenuhnya? Apakah negara kita ini sudah  menjadi negara yang diharapkan oleh penidiri bangsa ini?  Bisa iya, bisa tidak.

Di Indonesia ini belakangan ini banyak kejadian-kejadian yang menyankut masalah kebhinekaan. Memang wajar, untuk negara yang sedang berkembang pasti hal seperti ini terjadi. Namun, kita sebagai penerus bangsa tentunya harus berusaha agar memperbaikinya.



Usaha itu sendiri tidak hanya dari usaha seperti yang seperti dilakukan oleh pendiri – pendiri bangsa pada zaman dahulu, tetapi bisa kita mulai dari diri kita, mulailah dari hal – hal kecil. Dimulai dari sikap yang sopan, bagaimana kita memecahkan masalah, dan bagaimana kita bisa berpikir terbuka (open-minded) dalam memecahkan masalah apapun itu. Karena ini semua dimulai dari diri kita.

Karena kalau sudah berusan dengan negara ini yang dipertaruhkan itu bukan untuk suatu  kelompok maupun agama saja, yang diperjuangkan adalah semua warga negara Indonesia, maka dari itu kita tidak bisa semenah-menah menjadi egois,  masalah yang ada pada suatu bangsa tidak hanya bisa dilakukan oleh satu kelompok saja, namun harus bersama-sama.

Berbeda-beda tetapi tetap satu kita membuat perubahan yang lebih baik untuk ke depan. Amin Yarobal Alamin.

Wasalamualaikum Warahmatulahi Wabarokathu.